“Tari tidak semata-mata peristiwa gerak, ia adalah peristiwa media dari berbagai disiplin yang saya libatkan dalam kerja tari saya dan tubuh tetap sebagai poros utamanya.”

“Fitri membagi metodenya dalam beberapa bagian: (1.) Tubuh dalam ruang, dimana tubuh bisa menjadi bagian dari ruang &  ruang bisa menjadi bagian dari tubuh, hingga saling terkoneksi. (2.) Tubuh & ruang tidak menjadi teks buta dalam sebuah performans, tubuh membaca, meraba & berekspresi. Membawa tubuh-tubuh menemukan ruangnya, hingga tubuh merasa nyaman dengan temuan objek yang bisa dibuat menjadi suara-suara, seperti gesekan tangan pada dinding, gesekan kaki pada lantai, tubuh bisa merasakan lebih dalam suaty ruang untuk lebih menelajahi. (3.) Tubuh & ruang melebur menjadi sebuah teks ekspresif, sebuah penelaahan & perpanjangan tubuh mengungkapkan perasaan pada ruang yang digunakan. (4.) Tubuh & ruang menjadi teks informatif yang utuh, dengan cara menggunakan intuisi pada ruang hingga menemukan objek untuk digunakan dalam sebuah pertunjukan dengan cara observasi antara tubuh-ruang-kebendaan.

Teks oleh Saud Prayuda & Edit oleh Ferial Afiff.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Studio Tamu Semesta, Joned Suryatmoko, Gelanggang Olah Rasa, & Bakmoy sedap buatan Rhea Laras- Lab Pangan.

Fitri Setyaningsih aktif mengembangkan gagasan dan kerja tubuh yang tak hanya mendalami tari, tapi juga melintasinya dalam praktik penelusuran makna tubuh pada semasa waktu dan kesegaran perkembangannya. Ia memadukan interaksi tubuh dengan berbagai sumber kekuatan seperti benda sehari-hari, produksi suara/bunyi, seni konseptual, atau ranah eklektik lainnya. Bahkan beberapa prosesnya tanpa ragu menyentuh ruang ilusi, magis, hingga mistik. Ia telah melahirkan berbagai karya baik dalam panggung konvensional maupun site-specific. 

Fitri juga bereksplorasi dalam kerja sinematografi dengan karya film tari terbarunya berjudul Kinjeng Tangis yang tayang perdana (online) dalam Borobudur Writers & Culture Festival (2020); Watu Gamping (Bilangan Tak Terhingga) yang tayang perdana dalam Indonesian Dance Festival (2021); Arus Bawah dalam Gelombang Merah yang tayang perdana di Borobudur Writers & Culture Festival (2022).

Kemudian, karya pertunjukan langsung pada tiga tahun terakhir, yaitu Sleep Paralysis pada SipFest Musim Seni Salihara (2022) dan Return of Cicadas pada Indonesia Bertutur (Borobudur, 2022). Dalam IDF 2024 Fitri juga mempresentasikan karya terbarunya Garis Tegak Lurus.