Seeding Non-Aligned Rice Narratives: Long Table Community Dinner
“Satu cangkir beras sebagai bentuk “mata uang” untuk berpartisipasi untuk kedaulatan pangan.
Beras menjadi pintu untuk mengeksplorasi berbagai aspek sosial-politik dan budaya dunia. Dari Gerakan Non-Blok tahun 1955, yang pertama kali diselenggarakan di Bandung 69 tahun lalu, hingga perjuangan berkelanjutan untuk kedaulatan pangan, pertanian regeneratif, dan gerakan keadilan pangan, beras menjadi pilar penting dalam perlawanan anti-kolonial. Acara ini akan menghadirkan beras di meja bukan hanya sebagai makanan pokok sehari-hari, tetapi juga sebagai tanaman yang melekat erat pada budaya dan ekonomi dunia pasca-kolonial.

Makan malam ini menyoroti perjuangan yang terus berlanjut untuk kedaulatan pangan, dengan menunjukkan bagaimana budidaya padi—yang sering terganggu oleh sejarah kolonial dan tekanan pasar global—tetap menjadi simbol kuat ketahanan lokal dan perlawanan terhadap eksploitasi. Beras melambangkan keberlanjutan, perlawanan, dan penentuan nasib sendiri, tetapi apakah beras juga dapat berubah menjadi alat kontrol dan dominasi?
Meskipun peserta acara ini dibatasi, tidak mengurangi kehangatan yang terjadi dari diskusi, makan malam bersama, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Terima kasih kepada Bakudapan dan Sujatro Ghosh! Juga kepada seluruh antusiasme peserta yang terlibat dalam acara ini.



English:
Rice is a doorway to explore various socio-political and cultural aspects of the world. From the Non-Aligned Movement of 1955, first organized in Bandung 69 years ago, to ongoing struggles for food sovereignty, regenerative agriculture, and food justice movements, rice has been an important pillar in anti-colonial resistance. This event will bring rice to the table not only as a daily staple, but also as a crop closely tied to the culture and economy of the post-colonial world.
The dinner highlights the ongoing struggle for food sovereignty, by showing how rice cultivation – often disrupted by colonial history and global market pressures – remains a powerful symbol of local resilience and resistance to exploitation. Rice symbolizes sustainability, resistance, and self-determination, but can it also turn into a tool of control and domination?
Although the participants of this event were limited, it did not detract from the warmth of the discussion, the dinner, and the messages contained therein. Thank you to Bakudapan and Sujatro Ghosh! Also to all the enthusiastic participants involved in this event.
